Advertisement

Monday, October 2, 2017

Mengkritik Pemerintah Dalam Islam, Ghibah atau Khawarij?

author photo


SebarHidayah.com - Pada masa akhir-akhir ini, khususnya era reformasi, arus kebebasan di negeri ini begitu terbuka malah melebihi batas yang tak terduga dan cenderung menakutkan. Termasuk dalam hal hubungan antara rakyat (people) dan Negara (State). Dahulu merupakan hal yang tabu bahkan menakutkan apabila ada yang memberikan kritik dan nasehat terhadap penguasa, sedangkan saat ini sudah tak demikian. Ada yang memanfaatkan momen kebebasan ini sesuai tuntunan syariah, ada pula yang kebablasan membabi buta. Padahal sikap yang benar yaitu sikap pertengahan sebagaimana yang ditekankan oleh Islam.


“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasathan (pertengahan) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”(QS. Al Baqarah (2): 143)

Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sebaik-baiknya perbuatan (‘amal) adalah yang pertengahan.” (HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, 8/411/3730. As Sam’ani meriwayatkan dalam Dzail Tarikh Baghdad secara marfu’ dari Ali, tetapi dalam sanadnya terdapat periwayat yang majhul. Ad Dailami juga meriwayatkan tanpa sanad dari Ibnu Abbas secara marfu’. Lihat Imam ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/391 dan Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 112. ImamAs Suyuthi menyandarkan ucapan ini adalah ucapan Mutharrif bin Abdillah dan Abu Qilabah, yakni sebaik-baiknya urusan (Al Umur) adalah yang pertengahan. Lihat Ad Durul Mantsur, 6/333.)

Kita menyaksikan, ada manusia yang mengkritik dan memberi nasehat penguasa secara terang-terangan dalam hal yang seharusnya disembunyikan, ialah kehidupan pribadi dan kesalahan yang sifatnya pribadi yang tak membawa pengaruh buruk selain untuk diri penguasa itu sendiri. Sehingga terbukalah terhinanya, tersingkaplah kejelekan pribadinya.

Kita juga menyaksikan, ada manusia yang benci dan sama sekali tak melakukan apa-apa kepada kesalahan penguasa, meskipun kesalahan itu membawa mudharat dan penderitaan bagi rakyatnya, dengan alasan memberi nasehat penguasa seharusnya diam-diam, tak boleh terbuka. Malahan mereka menuduh bahwa yang melakukan pengarahan dengan terbuka ialah kaum khawarij. Walhasil, fakta situasi mereka malahan sekadar teori belaka, mereka tak melakukan apa-apa. Kedua sikap ini tidaklah benar dan sama-sama berlebihan. Tidak memperhatikan dilema secara utuh dan menyeluruh. Cuma bertolak ukur pada beberapa dalil tapi melupakan dalil lainnya.

This post have 0 comments

Silahkan Tambahkan Komentar Kamu Disini!
EmoticonEmoticon

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post