Advertisement

Tuesday, April 5, 2016

Pada Zaman Nabi Dilarang tapi Sekarang Malah Sering Diserukan oleh para "Ustadz" Modern Zaman Sekarang.

author photo
SebarHidayah.com - Betapa jauhnya jarak keshalehan diri dan generasi ini dengan pencapaian para sahabat Nabi dan generasi setelahnya. Jika kini sebagian besar dari kita merasa bangga dengan sesuatu yang bukan dari Islam tapi nampak islami, kemudian mencari banyak dalih untuk membenarkan ajaran yang kita serukan, para sahabat justru sangat teliti bahkan takut tatkala apa yang mereka amalkan-serukan berbeda dengan yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.



Dulu, hal ini menjadi terlarang. Bahkan para sahabat sangat menjaga diri untuk tidak menyentuhnya. Namun, di zaman akhir ini, oleh para motivator dan sosok-sosok keren berdasi yang kemudian di-ustadz-kan, apa yang terlarang di zaman Nabi ini menjadi komoditas laris sebab dibungkus dengan dalil yang dipaksakan.

Para oknum motivator dan ‘ustadz’ itu, misalnya, dengan mudah berdalih, “Spesifikkan dalam berdoa. Agar semuanya menjadi kenyataan. Bahkan alam akan mendukung apa yang kita niatkan.” Lalu, dengan berapi-api, mereka mengatakan, “Mintalah detail. Mobil keluaran terbaru, tahun sekian, dari perusaah ini, warnanya, jumlah rodanya, jenis kursinya, kaca spionnya, harganya, dan lain sebagainya.”

Seakan-akan, mereka memiliki kuasa untuk mengatur Allah Ta’ala agar menuruti semua nafsunya dengan dalih, “Allah bersama prasangka hamba-hamba-Nya.” Padahal, sikap demikian itu sangat jauh dari apa yang mereka jadikan sebagai dalil.

“Ya Allah,” ucap anak dari ‘Abdullah bin Mughaffal, “sesungguhnya aku memohon kepada-Mu istana putih di sisi kanan surga, apabila saya memasukinya.”

Apa yang dipinta oleh anaknya ini, diingatkan oleh ayahnya, “Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah Ta’ala, dan berlindunglah kepada-Nya dari neraka.” Pasalnya, ‘Abdullah bin Mughaffal pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya akan ada suatu kaum dari umat ini yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (Hr. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)

Berlebih-lebihan. Itulah tafsir dari permintaan: istana berwarna putih, di sebelah kanan surga, apabila memasukinya (surga).

Senada dengan riwayat ini, ada juga orang yang berdoa, “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu surga dan kenikmatannya, keindahannya, dan demikian, demikian. Dan aku berlindung dari neraka, rantai-rantai, serta belenggu-belenggunya.”

Padahal, surga dan kenikmatannya adalah satu paket utuh. Sedangkan neraka dan siksaan di dalamnya adalah kesatuan yang mustahil dipisahkan satu dengan lainnya. Mereka yang berdoa meminta surga secara detail saja dikatakan berlebih-lebihan, bagaimana dengan orang yang hanya meminta dunia, mobil, sawah, dan perihal duniawi lainnya, lalu melupakan akhirat yang abadi? Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari apa-apa yang tercela, dan semoga mereka segera mendapatkan hidayah agar segera sadar dan memperbaiki segala kesalahannya. Aamiin.
Wallahu a'lam

Sumber: kisahikmah.com

This post have 10 comments

avatar
Ismail Raji Ridha delete April 15, 2016 at 12:50 PM

'sering' ??
semoga apa yang anda tulis tidak menyebabkan perpecahan ditubuh islam.

Reply
avatar
Muhammad Hafis delete April 16, 2016 at 3:07 AM This comment has been removed by the author. Reply
avatar
Muhammad Hafis delete April 16, 2016 at 3:17 AM

‘Abdullah bin Mughaffal pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya akan ada suatu kaum dari umat ini yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (Hr. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)
Apakah maksud sabda rasulullah ini berarti jika seorang muslim berdoa kepada Allah berlebihan seperti mintak diberi rejeki yang banyak. Selalu sehat dijauhkah dari segala musibah. Mintak dimasukin surga yang paling agung itu berdosa. Apakah jika muslim yang bersuci secara berlebihan seperti selalu bewudhu ketika batal itu dosa

Reply
avatar
hapis somat delete April 17, 2016 at 7:14 AM

Haadeeehhh... Tidak baik menilai Muslim lain. Apa lagi di zaman sekarang, zaman penuh provokasi. Mendingan jaga dirimu sendiri. Jaga iman, jaga ketaqwaan, jaga akhlak. Semoga amal dan ibadah kita diterima di sisi Allah... Aamiin.

Reply
avatar
hapis somat delete April 17, 2016 at 8:12 AM

Haadeeehhh... Tidak baik menilai Muslim lain. Apa lagi di zaman sekarang, zaman penuh provokasi. Mendingan jaga dirimu sendiri. Jaga iman, jaga ketaqwaan, jaga akhlak. Semoga amal dan ibadah kita diterima di sisi Allah... Aamiin.

Reply
avatar
wong-4in delete April 21, 2016 at 3:13 AM

Mungkin maksudnya gini. Itu kan sudah jelas seperti di artikel. Surga ya otomatis dengan kenikmatan di dalamnya. Begitu juga neraka. Tapi anak abdullah bin mughaffal diatas meminta secara berlebihan dengan menyebut istana di sisi kanan surga. Minta rizki yg banyak,selalu sehat, dijauhkan dari musibah itu tidaklah berlebihan. Berlebihan jika misal minta rizki yg banyak jumlahnya sekian,, mata uangnya negara ini, harus tiba2 nemu di dalam tanah, dll misalnya.

Bersuci berlebihan misalnya berwudhu yg seharusnya cukup satu ember kecil malah bisa sampai 6 ember kecil. Atau Membasuh anggota wudhu melebihi yg cukup dibasuh. atau melebihi jumlah bilangan wudhu yaitu lebih dari 3 kali. Contoh lain beristinja sampai menyusahkan diri cebok jarinya sampai masuk2 ke dalam lubang dubur. Dll.

Sebenarnya artikel di atas mudah di pahami kok. Baca lagi pelan2 dan pahami dgn benar maksudnya.

Reply
avatar
Panjull Blogspot delete April 22, 2016 at 11:48 PM

Demi waktu Asr,sesungguhnya manusia dlm keadaan merugi,kecuali mereka yg beriman dan beramal sholeh dan saling mengingAtkan kepada yg haq dan saling bersabar.

Reply
avatar
Oadi Supri delete April 30, 2016 at 10:32 PM

Yg jelas aku tdk ngerti apa kau katakan,,

Reply
avatar
Toro Hafidz delete May 3, 2016 at 4:35 PM

Sebenarnya mudah dipahami, tp kl hati kita bertentangan menjadi sulit memahami

Reply

Silahkan Tambahkan Komentar Kamu Disini!
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post