Advertisement

Thursday, March 31, 2016

Peraih Nobel Perdamaian Marah Tak Sudi Diwawancarai Seorang Muslim

author photo
SebarHidayah.com - Peraih Nobel Perdamaian asal Myanmar Aung San Suu Kyii ketahuan sifat aslinya ketika dia diwawancara oleh pembawa acara muslim bernama Mishal Husain, 43 tahun, dari BBC.

Setelah Mishal mencecarnya dengan berbagai macam isu terkait Myanmar dan muslim Rohingya, Suu Kyii kemudian terdengar kesal dan mengungkapkan kemarahannya secara off-air.



"Tak ada yang memberitahu saya akan diwawancara oleh seorang muslim," kata dia, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Jumat (25/3).

Ketika Mishal berulang kali mendesak perempuan 70 tahun itu untuk menyatakan kecaman terhadap gelombang anti-muslim dan pembantaian minoritas etnis Rohingya di Myanmar, Suu Kyi berkeras tidak ingin melakukannya.

"Menurut saya banyak juga warga Buddha yang terpaksa mengungsi karena berbagai alasan," kata dia. "Ini adalah dampak dari penderitaan kami di bawah rezim diktator militer sebelumnya."

Mayoritas penduduk Myanmar adalah Buddha dan mereka kebanyakan membenci etnis minoritas muslim Rohingya. Suu Kyi selama ini cenderung bungkam terhadap penindasan dialami muslim Rohingya diduga karena dia tidak ingin kehilangan dukungan politik oleh rakyat tang mayoritas Buddha.

Dengan latar belakang yang liberal dan toleran, mengapa Suu Kyi begitu marah ketika Husain menekannya dengan keras dalam wawancara tersebut?

Popham mengatakan ada kemungkinan karena Suu Kyi sendiri dan teman seperjuangannya, Dr Tin Mar Aung, berasal dari Arakan dan juga beragama Budha.

"Tetapi ada juga penjelasan yang lebih sederhana," tulis Popham yang telah menulis dua biografi Suu Kyi itu. Menurutnya keengganan Suu Kyi membela minoritas Muslim Rohingya adalah semata karena alasan politik.

Ia mengatakan selama 28 tahun berjuang, Suu Kyi sangat populer di antara warga Myanmar yang 90 persen beragama Budha. Tetapi rezim militer selalu berusaha merusak nama Suu Kyi dengan mengatakan bahwa dia bukan orang Myanmar tulen, karena bersuamikan warga Inggris dan hidup di Barat selama puluhan tahun.

"Dengan menudingnya sebagai orang asing, mereka berusaha memojokkan dia bersama kelompok minoritas Muslim yang juga dinilia sebagai asing oleh warga Budha Myanmar, dan tak layak tinggal di negeri itu," jelas Popham.

"Menurut dugaan saya, Suu Kyi enggan membela komunitas Rohingya karena takut pembelaannya akan digunakan oleh militer untuk memojokkannya - dan jika mayoritas warga Myanmar mempercayai propaganda itu maka posisisnya akan semakin tergerus dan peluangnya menuju kekuasaan akan semakin tipis," jelas Popham.

Pada November 2015 lalu partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi telah memenangkan pemilihan umum dan pada awal bulan ini, rekannya Htin Kyaw menjadi presiden sipil pertama di negeri itu. Setelah berada di kekuasaan, Popham berharap Suu Kyi bisa dengan leluasa mengeluarkan pendapatnya soal Rohingya.

"Mungkin kini dia sudah bisa lebih santai dan mengatakan pada kita semua, apa pendapatnya (tentang minoritas Rohingya)," tulis Popham.

sumber: merdeka.com, suara.com

This post have 0 comments

Silahkan Tambahkan Komentar Kamu Disini!
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post